January 12th, 2010 by admin

Penulis menyaksikan pergantian tahun 2009 ke 2010 di Kota Bandung Indonesia, menginap bersama isteri di Arion Swiss Belhotel sejak 30 Disember 2009 hingga 3 Januari 2010. Menerusi Saluran TV Metro penulis di kejutkan oleh berita kematian Kiyai Abdul Rahman Wahid atau Gus Dur, Mantan Presiden keempat Republik Indonesia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM – Jakarta).
Gus Dur sosok seorang pemimpin, ulama, penggerak sosial, penulis, budayawan dan ahli politik hebat itu sudah tiada lagi. Terkenal sebagai Bapak Pluralisme Indonesia seorang kiyai yang mengusulkan pembumian Islam dan fikeh Indonesia memiliki citra warna-warni: pemidato berani, sentiasa selamba dan berterus terang – penggemar dan pengulas bola sepak, penggemar muzik Mozart dan Beethoven diceritakan oleh seorang penyiar (DJ) sebuah stesen Radio FM Jawa bahawa Sang Kiyai N.U (Nahdatul Ulama) itu pernah menelefon agar lagu tema “Remang-remang” disiarkan sepenuhnya justeru beliau amat terkesan dan meminati lagu tersebut. Pernah mengusulkan agar orang Indonesia yang sukar menyebut kalimat Arab menukarkan ucapan salam dengan “Selamat Pagi” sahaja.
Sebagai seorang aktivis Islam di Malaysia, penulis tidak banyak berkongsi pemikiran Gus Dur terutama pegangan Pluralisme beliau. Namun penulis turut berbelasungkawa – sedih dengan kepergian seorang Gus Dur yang akan mensunyikan nusantara dari ide-ide unik dan kontroversi. Apapun kita harus menghormati perbedaan pendapat. (Penulis segera terkenang kontroversi penggunaan kalimah Allah oleh Majalah Christian Herald yang dibenarkan oleh Mahkamah Tinggi Negara baru-baru ini).
Untuk memahami proses pengIslaman di Jawa kita perlu menelusuri sejarah penyebaran Islam di sana dan untuk itu penulis ingin memetik beberapa perenggan buku Dakwah Wali Songo: Penyebaran Islam Berbasis Kultural di Tanah Jawa tulisan bersama Dr. Purwadi dan Dra. Enis Niken, Panji Pustaka Yokyakarta 2007.
“Sejarah Wali Songo berkaitan dengan penyebaran Dakwah Islamiyah di Tanah Jawa. Sukses gemilang perjuangan para Wali ini tercatat dengan tinta emas. Dengan didukung penuh oleh Kesultanan Demak Bintoro, agama Islam kemudian dianut oleh sebahagian besar masyarakat Jawa, mulai dari perkotaan, pedesaan dan pegunungan. Islam benar-benar menjadi agama yang mengakar. Proses Islamisasi di pulau Jawa berjalan dengan aman dan damai, tanpa ada pergolakan serta kegoncangan psikologis dan sosial.
Hal ini disebabkan para Wali lebih menggunakan pendekatan kultural, yang sarat dengan simbol-simbol kebudayaan lokal, seperti wayang dan gamelan. Akulturasi kebudayaan yang dipelopori Wali Songo dilanjutkan oleh para juru dakwah berikutnya, sehingga pengamalan dan praktek Islam di Jawa terasa amat khas. Agama dan budaya berjalan secara selaras, serasi dan seimbang.”
Pendakwahan Wali Sembilan: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga dan lain-lain menarik diselidiki.
Sunan Bonang atau Raden Makdum atau Maulana Makdum Ibrahim dikatakan melaksanakan dakwah melalui Pewayangan, menyempurnakan instrument gamelan: bonang, kenong dan kempul. Syairnya “Tamba Ati” dilagukan sampai hari ini oleh orang-orang Jawa di masjid dan pesantren.
Tamba Ati Iku Lima Sak Wanane
Kaping pisan maca Quran sak maknane
Kaping pindho salat wengi lakonana
Kaping telu, wong kang soleh kencanana
Kaping papat kudu weteng nigkang luwe
Kaping lima zikir wengi nigkang suwe
Salah sa ijune sapa bisa ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah ngijabahi.
Terjemahan:
Ubat Hati Ada Lima Macamnya
Yang pertama baca Quran dan maknanya
Yang kedua solat malam dirikanlah
Yang ketiga orang soleh dekatilah
Yang keempat zikir malam perpanjangkanlah
Yang kelima harus tahan lapar perutnya
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Allah mencukupi.
Menurut tembang itu, ada lima macam penawar hati atau pengubat jiwa yang ‘sakit’, yakni membaca Al-Quran, mengerjakan solat tahajjud, bersahabat dengan orang soleh, berzikir dan hidup prihatin. Sementara syair tembang Ilir-ilir karya Sunan Kalijaga pula begitu halus maknanya, penuh tamsil dan ibarat.
Ilir-ilir
Ilir ilir tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar
Bocah angon(2x) penekna belimbing kuwi
Lunyu-lunyu ya penekna kanggo masuh dodotira (2x)
Dodotira (2x) kumitir bedhah ing pinggir
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore (2x)
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Terjemahan:
Ilir-ilir
Ilir-ilir tanaman sudah bersemi
Tampak menghijau ibarat pengantin baru
Wahai penggembala panjatlah belimbing itu
Meski licin panjatlah untuk mencuci kain
Kain yang sedang robek pinggirnya
Jahitlah dan tampallah untuk
Menghadap nanti sore
Ketika bulan terang dan lebar tempatnya
Lagu puisi Ilir-ilir di atas memberi rasa optimis kepada seseorang yang sedang melakukan kebaikan di mana amal itu berguna untuk bekal di hari akhir.
Pesan tentang asal-usul dan tujuan hidup di pegang teguh oleh pengikut Mistik di Jawa. Apalagi bila guru Sunan Kalijaga pernah memberikan wejangan (ajaran) seperti tersimpul dalam tembang Dhanghanggula seperti berikut:
Urip iku neng donya tan lami
Upamane jebeng menyang pasar
Tan langgeng neng pasar bae
Tan wurung nuli mantuk
Mring wismane sangkane nguni
Ing mengko aja samar, sangkan paranipun
Ing mengko padha weruha
Yen asale sangkan paran duk ing nguni
Aja nganti kesasar
Terjemahan:
Hidup di dunia ini tidak lama
Seperti jika kamu pergi ke pasar
Tidak akan di pasar terus
Pastilah akan kembali juga
Ke rumah asalnya
Maka janganlah sampai keliru
Maka ketahuilah
Ilmu sangkan paran ( asal diri / asal dan tujuan)
Agar jangan sampai kesasar
Pesan mistik tembang tersebut mengkehendaki bahawa hidup di dunia ini tidak lama, ibarat manusia pergi ke pasar, akan segera kembali ke rumah asalnya, kerana itu jangan sampai ragu-ragu terhadap asal-usul, agar jangan sampai salah jalan. Pesan ini menunjukkan bahawa manusia hidup di dunia sekadar mampir ngombe (singgah untuk minum), kerana suatu ketika akan kembali kepada Tuhan.
Bagi penulis tembang tersebut perlu ditanggapi secara positif. Ia tidak bermakna hidup yang singkat ini tidak perlu perhatian dan pergerakan yang terlalu serius. Atau menganggap hidup ini sementara tak mengapa kalau di sia-siakan. Kan cuma sebentar saja? Malah bagi penulis ini menunjukkan ia perlu diperebutkan dengan sebaik-baiknya dengan menjadikan kehidupan sebentar ini sebagai suatu yang amat bermakna. Kehidupan berkualiti tinggi, tamsilnya pun masuk ke pasar dengan segala aktiviti muamalat, jual-beli, perekonomian dan sosial kalau pun sebentar semacam “singgah ngombe” (singgah minum) warung persinggahan, isi perbualan apatah lagi minuman dan juadah makanan semestinya yang paling enak, bersih, halalan toiyiban. Katakunci tetap kualiti.
Demikian petikan-petikan ringkas untuk lontaran awal bagi memahami susur-galur proses Islamisasi dan dakwah berbasis budaya yang amat ketara di Tanah Jawa sebagai halwa minda.
Perhatikan betapa kreatif para wali itu berdakwah kepada umat Jawa yang menganut anamisma dan budaya Hindu Buddha sehingga Islam mengakar dalam Peradaban dan Budaya Jawa.
Sekadar mengambil iktibar apa salahnya. Tanyai diri sendiri, kita yang kononnya “murni” ini di tahap mana da’awah bil lisan wa da’awah bil hal atau da’awah bil thaqafah.
Astaghfirullah il ‘Azim. Moga-moga Allah s.w.t sudi mengampunkan.
M. Anuar Tahir
Alor Setar/ 6 Januari 2010 bersamaan 20 Muharam 1431H
Anuar Tahir, GLC Kedah, KAHB, Kedah, Kedah Agro, Kedah Agro Holdings, Mohd Anuar Tahir, Wacana, Wali Songo